• Kontak Kami
  • Hotline : 081222488988
  • SMS : 081222488988
  • BBM : D7AB6939

Kontak Kami

Selamat berbelanja, Shopper!

Buka jam 08.00 s/d jam 21.00 , Sabtu, Minggu dan Hari Besar Tetap Buka.
Mukenah.com dilaunching di Kota Tasikmalaya pada 9 September 2017. Mukenah.com menjual mukenah hasil kerajinan khas Tasikmalaya Jawa Barat Mukenah.com membuka kesempatan untuk menjadi agen yang berhak menjual produk Mukenah.com dengan harga yang terjangkau dan menguntungkan. Silahkan Kontak Kami untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut seputar Mukenah.com
Beranda » Artikel Terbaru » Sejarah dan Asal Usul Mukenah

Sejarah dan Asal Usul Mukenah

Diposting pada 10 September 2017 oleh mukenah

Mukena atau mukenah adalah busana perlengkapan shalat untuk perempuan muslim khas Indonesia. Sebenarnya dalam Islam tidak ada peraturan terperinci mengenai busana macam apa yang selayaknya dipakai untuk shalat, yang ada hanyalah prinsip-prinsip umum bahwa busana untuk shalat hendaknya menutupi aurat dan bersih dari noda atau kotoran. Mukenah adalah produk budaya khas Indonesia, konon merupakan hasil adaptasi yang dilakukan oleh para wali zaman dahulu. Ketika itu cara berbusana perempuan Indonesia adalah mengenakan kemben yang memperlihatkan dada bagian atas hingga kepala, untuk menyesuaikan dengan cara berbusana Islam maka dibuatlah mukenah yang sederhana akan tetapi bisa mentupi seluruh anggota badan kecuali wajah dan telapak tangan.

Secara umum ada 3 macam jenis mukenah yaitu one piece (terusan), abaya dan two piece seperti bisa dilihat pada gambar.

Pada perkembangannya seiring dengan kemajuan teknologi di bidang tekstil, maka model, warna dan corak mukenah pun mengalami perubahan terus menerus. Seperti perkembangan Mukenah yang ada di Indonesia seperti Mukenah Bali, Mukenah Bordir Tasik, Mukenah Padang dan sebagainya.

Wanita menggunakan mukenah ketika shalat

 

Mukenah yang biasa dipakai oleh muslimah indonesia umunnya merupakan busana yang identik dengan penunaian ibadah shalat bagi wanita. namun perlu diketahui juga kalau mukenah hanya terdapat di Indonesia dan beberapa negara Asia Tenggara lainnya, mungkin kalau anda berkunjung dan berada di Timur Tengah, Anda tidak akan menemukan setelan mukenah yang terdiri dari rok atau bawahan dan atasan namun sebaliknya di kawasan tersebut memiliki burqa atau abayya.

Anda tahu tidak kalau kaum muslimah selain Islam Melayu, ketika sholat mereka tidak menggunakan mukenah, tapi mereka cukup mengenakan baju rapi yang panjang dan tidak berbentuk, seperti halnya jubah atau gamis panjang yang hanya menampakkan muka dan telapak tangan sebagaimana syariat Islam ajarkan tentang aurat wanita.

Kalau kita ke Pakistan dan India akan berbeda lagi. Ketika kaum muslimah disana sholat, kostum atau busana yang digunakan adalah tarha dan syrwal. Tarha adalah pasmina lebar yang menutupi hampir separuh tubuh. Sedangkan syrwal adalah celana dengan model Aladin dengan jahitan serut di bagian belakang, mungkin kedengarannya agak lucu namun begitulah tradisi di Pakistan dan India jika muslimah hendak sholat.

Asal Mula Mukenah

Mukena merupakan hasil dari perpaduan budaya, antara busana tradisional indonesia terutama pulau jawa dengan masuknya Islam ke indonesia. Sebelum agama islam tersebut melakukan dakwah ke Indonesia, busana kaum perempuan dulu di Jawa umumnya memakai kain panjang seperti jarik tanpa dijahit dan kemben yang dililit.
Revolusi budayapun mulai timbul ketika para penyebar Islam masuk terutama Wali Songo yang membawa agama Islam masuk ke Indonesia. Atas nama syariah yang mengatur tata cara berbusana bagi kaum perempuan, maka muncul lah beberapa gagasan. gagasan ini mengiringi kehadiran mukenah di Indonesia.

Kompromi antara Wali Songo dengan kaum perempuan pada masa itu adalah tentang penggunaan mukenah. Mukenah merupakan busana syariah yang hanya boleh menampakkan wajah dan telapak tangan yang dikenakan ketika menunaikan sholat. Setelah selesai sholat, kaum wanita/muslimah dapat kembali mengenakan busana yang biasa dipakai.

Pengguna mukenah yang paling umum ini dapat ditemui di Indonesia, Malaysia dan Filipina, sehingga dapat kita katakan kalau mukenah ini merupakan pakaian khas Islam Melayu. Di Malaysia sendiri istilah nama yang digunakan untuk mukenah adalah telekung.

Hukum Mukenah Ketika Sholat Bagi Wanita

Waktu menunaikan shalat, harus ada busana khusus yang harus dikenakan walaupun shalat sendirian. Pada masa jahiliyah, menurut riwayat Ibnu ‘Abbas pada awalnya wanita melakukan thawaf di Ka’bah tanpa mengenakan busana, bagian yang tertutup hanyalah bagian kemaluan.

Nabi pun bersabda, seperti yang diriwayatkan pada Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi,
“Tidak boleh orang yang telanjang thawaf di Ka’bah”.
Sabda nabi inilah yang oleh Wali Songo dijadikan tolok ukur untuk membuat gagasan dengan wanita nusantara mengenai terciptanya mukenah. Seperti diungkapkan oleh Al-Imam An-Nawawi yang masih berkaitan dengan mukenah, “Dahulu orang-orang jahiliyah thawaf di Ka’bah dalam keadaan telanjang. Mereka melemparkan pakaian mereka dan membiarkan tergeletak di atas tanah terinjak-injak oleh kaki orang-orang yang lalu lalang. Mereka tidak lagi mengambil pakaian tersebut hingga usang dan rusak.”

Kebiasaan kaum Jahiliyah ini berlangsung hingga kedatangan Islam. Allah memerintahkan kaum itu untuk segera menutup aurat. Sesuai dengan ayat Allah,

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.

Ayat ini yang menjadi dasar syariat tentang asal dari busana mukenah.
Apakah Mukenah Juga Jilbab?

Tentu saja mukenah bukanlah jilbab, karena mukenah merupakan busana yang dibuat khusus untuk kaum wanita untuk dipakai ketika menjalankan ibadah sholat. Dan syarat tersebut tidak mewajibkan untuk terus memakai pakaian wajib untuk sholat sebagai pakaian sehari-hari. Hal ini sesuai dengan perkataan Ibnu Taimiyyah,

“Mengenakan pakaian di dalam shalat adalah dalam rangka menunaikan hak Allah maka tidak boleh seseorang shalat ataupun thawaf dalam keadaan telanjang, walaupun ia berada sendirian di malam hari. Maka dengan ini diketahuilah bahwa mengenakan pakaian di dalam shalat bukan karena ingin menutup tubuh (berhijab) dari pandangan manusia, karena ada perbedaan antara pakaian yang dikenakan untuk berhijab dari pandangan manusia dengan pakaian yang dikenakan ketika shalat”.

Untuk wanita muslim, sekadar mengenakan mukenah saat shalat tidaklah cukup. Namun kebersihan dari pakaian dan mukenah itu sendiri sangatlah penting. Sehingga pakaian/busana tidak boleh terkena najis, bau dan kotor. Selain itu penting juga memperhatikan sisi keindahan juga kebersihan yang kesemuanya karena Allah.

Firman Allah memerintahkan agar mengenakan zinah ketika shalat sebagaimana ayat yang telah disebutkan sebelumnya.

“Maka sepantasnya seorang hamba shalat dengan mengenakan pakaian yang paling bagus dan paling indah karena dia akan bermunajat dengan Tuhan semesta alam dan berdiri di hadapan Allah.”

Mukenah yang hanya boleh menampakkan wajah dan telapak tangan sesuai dengan ajaran islam ketika sholat. Hal tersebut seperti dikatakan oleh Al-Imam Asy-Syafi’I dan Al-Auza’I, yaitu “Wanita menutupi seluruh badannya ketika shalat kecuali wajahnya dan dua telapak tangannya.” Hal ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan ‘Atha. Sedangkan Abu Bakar bin Abdirrahman bin Al-Harits bin Hisyam mengatakan bahwa “Semua anggota tubuh wanita merupakan aurat sampai kukunya pun.”

Al-Imam Ahmad sejalan dengan pendapat ini yang juga menjadi penyebab lahirnya mukenah, dengan mengatakan
“Dituntunkan bagi wanita untuk melaksanakan sholat dalam keadaan tidak terlihat sesuatu pun dari anggota tubuh tidak terkecuali kukunya.”
Mungkin hadits tersebutlah yang digunakan oleh sebagian wanita sebagai acuan untuk menggunakan cadar. Mukenah yang standar dirancang untuk menampakkan wajah dan telapak tangan. Hal ini sesuai dengan pendapat Ibnu Taimiyyah

“Seluruh tubuh wanita merdeka itu aurat (di dalam shalatnya) kecuali bagian tubuh yang biasa nampak darinya ketika di dalam rumahnya, yaitu wajah, dua telapak tangan dan telapak kaki.”

Namun disayangkan, mukenah yang saat ini, mungkin kurang mengacu pada ayat dan hadist yang tertulis diatas. Sehingga tidak jarang kita menemui wanita ketika menunaikan shalat dengan menggunakan mukenah dengan bahan yang tipis dan transparan sehingga rambut panjang yang terurai dan lekukan tubuh jika menggunakan pakaian ketat masih dapat terlihat di balik mukenah.

Perihal mukenah yang harus menutupi aurat, Ibnu Qudamah mengatakan,
“Disenangi bagi wanita untuk shalat mengenakan dira` yaitu pakaian yang sama dengan gamis hanya saja dira` ini lebar dan panjang menutupi sampai kedua telapak kaki, kemudian mengenakan kerudung yang menutupi kepala dan lehernya, dilengkapi dengan jilbab yang diselimutkan ke tubuhnya di atas dira.”
Begitupun hukum menutup aurat ketika shalat yaitu menggunakan mukenah, diungkapkan oleh Al-Imam Asy-Syafi’i. Beliau berkata bahwa,

“Kebanyakan ulama bersepakat untuk pemakaian dira` dan kerudung, bila menambahkan pakaian lain maka itu lebih baik dan lebih menutup.”

Semoga sajian kami ini bisa menambah wawasan Anda terutama kepada kaum hawa tentang sejarah dan asal usul mukenah.

 

 

Bagikan informasi tentang Sejarah dan Asal Usul Mukenah kepada teman atau kerabat Anda.

Sejarah dan Asal Usul Mukenah | Mukenah.com

Belum ada komentar untuk Sejarah dan Asal Usul Mukenah

Silahkan tulis komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Mungkin Anda tertarik produk berikut ini:
OFF 17%
Rp 250.000 Rp 300.000
Ready Stock / SLBUNG
OFF 17%
Rp 250.000 Rp 300.000
Ready Stock / SLBHJU
OFF 17%
Rp 250.000 Rp 300.000
Ready Stock / SLBMRH
SIDEBAR